REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan berbagai sektor pada tahun 2020 di Indonesia, industri acara (event) menjadi salah satu yang paling jatuh. Larangan berkerumun membuat roda pekerjaan di lapangan...
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan berbagai sektor pada tahun 2020 di Indonesia, industri acara (event) menjadi salah satu yang paling jatuh. Larangan berkerumun membuat roda pekerjaan di lapangan terhenti. Di tengah ketidakpastian itu, Henny Yuwanda, S.Bns, seorang pekerja lapangan di dunia event, dihadapkan pada pilihan antara menyerah dengan keadaan atau mencari jalan baru. Dan dia memilih yang kedua.
Keputusan itu membawanya untuk mendaftar kuliah ke Universitas Nusa Mandiri (UNM) kampus Margonda, dengan lokasi kampus yang tak jauh dari rumahnya. Berbekal ijazah SMK jurusan Administrasi Perkantoran, Henny mengambil langkah berani dengan masuk sebagai angkatan pertama di Program Studi (Prodi) Bisnis Digital.
“Aku masuk Prodi Bisnis Digital dengan modal nekat. Ya sudahlah, justru karena tidak ada pengalaman sama sekali, aku coba. Aku melihat peluangnya sangat besar saat itu,” kenang Henny.
Instingnya waktu itu, ternyata terbukti. Di pertengahan masa kuliahnya, perkembangan digitalisasi melesat tajam. Tenaga ahli yang memahami iklan, manajemen data, hingga analisis pasar menjadi incaran banyak perusahaan.
Mengawinkan Teori Kampus dan Realitas Industri
Kini, setelah lulus dari UNM yang memang terkenal sebagai Kampus Digital Bisnis, Henny sukses berkarier memegang posisi Event & Partnership di PT House of Metamorfit. Tugasnya bukan sangat vital. Ia menjadi jembatan kemitraan dan sponsorship antara perusahaannya dengan brand-brand raksasa, seperti Pocari Sweat hingga corporate event bersama Bank Mandiri. Selain itu, juga banyak brand-brand lainnya.
Menariknya, kesuksesan Henny di lapangan sangat ditopang oleh ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah. Kurikulum UNM yang komprehensif, mulai dari manajemen, dasar coding, hingga analisis bisnis, menjadi senjata utamanya.
“Ada satu pelajaran yang sangat terpakai di pekerjaanku sekarang, yaitu Customer Behavior (Perilaku Konsumen). Aku tidak bisa sembarangan membuat event. Aku harus menganalisis dulu, apakah konsep ini masuk ke pasaran? Apakah mereka akan tertarik? Analisis itu yang aku ajukan ke owner untuk disetujui. Banyak yang aku terapin di lapangan ilmunya didapat dari mata kuliah tersebut,” jelas Henny yang menamatkan studinya di tahun 2025 ini.
Berada di garda depan pemasaran, Henny melihat langsung bagaimana pergeseran era terjadi. Menurut pengalamannya, kekuatan pemasaran saat ini dipegang oleh ranah digital dengan persentase 90 persen, berbanding 10 persen untuk cara tradisional.
“Meskipun aku turun ke lapangan untuk branding, impact-nya jauh berbeda dengan iklan digital, entah itu di Instagram atau Meta. Leads (data calon pelanggan) yang kita dapatkan untuk di-follow up itu jauh lebih banyak dari digital ketimbang saat aku turun langsung ke lapangan,” paparnya.